Lama
saya tidak menulis tentang rearing Crocidolomia
Pavonana yang saya rencanakan berpart-part hehe.. Harap maklum.. Kesibukan
saya mengurusi si juragan kecil C.pavonana
lengkap dengan stress penelitiannya ditambah leptop ngambeck rusak menjadikan
tulisan saya tertunda. Oke yang udah haus akan info rearing juragan kecil
langsung saja kita simak berikut ini. Haha :D (merasa seperti penulis yang udah
dinanti tulisannya aamiin :D -- ini
impian, boleh diketawain tapi harus ikut mengamamiini lho yaa..haha.. #maksa) tapi
sopo juga yo yang nanti…?? Siapa saja dech yang butuh, monggo, semoga tulisan
saya ini berguna.
Senin, 20 Mei 2013
Part 2 Rearing Crocidolomia Pavonana (Fase Telur)
Kamis, 18 April 2013
SUMBER TENANGKU
Bismillahirohmanirohim.Cucuran air mata yg tersembunyi tak kuasa ku tahan ketika aku menyebut dan mengadu secara pribadi kepadaNya. Allah SWT Tuhanku.
Allah Engkau lah Tuhanku yg
Maha Pengasih lagi Penyayang. Engkau tempatku mengadu. Engkau sumber tenangku. dan Engkaulah
pengampun dosa.
Jumat, 22 Februari 2013
Bukan Sekedar "Pitik" Biasa
Cerita ini semoga dapat menjadi
penghibur buat yang galau, yang lagi sedih atau yang stress.. pusiang2..dan lainnya. Cerita
ini bukan fikti belaka.. ini Asli dan maaf banyak bahasa gado-gado (jawa-indo) ^_^ Selamat Menikmati kisah “Bukan
sekedar Pitik Biasa”
Kamis, 27 Desember 2012
SERTIFIKASI BENIH
PENDAHULUAN
Tentang riwayat
sertifikasi benih ini menurut COPELAND
(vide “Principles Of Seed Sciences and Technology”, 1997) bermula dengan
dibentuknya di Swedia yaitu perkumpulan yang disebut Sweedisch Associate (tahun
1888). Tujuan perkumpulan ini untuk memproduksi dan mengembangkan benih-benih
tanaman dengan mutu yang baik bagi pemakaian di Negara tersebut. Kemudian
ditingkatkan bagi pemakaian di beberapa Negara lainnya. Kenyataan adanya usaha
demikaian di Negara tersebut melahirkan : (a) Balai Penelitian Seleksi Tanaman,
(b) Organisasi Penyebaran Benih, serta (c) Balai Pengujian Benih, yang
selanjutnya terjadi suatu penggabungan dan melahirkan program Sertifikasi
Benih.
Di Indonesia, pada
zaman pemerintah Hindia Belanda tahun 1920 telah mulai adanya perhatian
terhadap soal perbenihan dan meningkatkan perbaikan cara-cara bercocok tanam
usaha-usahanya diarahkan kepada pengadaan benih yang kemudian di ikuti dengan
pendirian lumbung-lumbung benih untuk menyediakan benih bagi para petani. Pada tahun
1930 kegiatannya meningkat yaitu dengan dibangunnya balai benih (khususnya di
Jawa). Balai Benih ini berfungsi sebagai sumber benih yang agak lebih baik
mutunya dan secara terus-menerus dapat memenuhi kebutuhan para petani. Suatu
cara yang sangat disayangkan ketika itu ialah tentang pendistribusiannya
tertuju pada basis yang tidak efisien, sehingga terjadi kontaminasi yang terasa
kurang manfaatnya. Sebab sebagian besar
para petani yang produkstif tidak mendapatkannya.
Sabtu, 08 Desember 2012
UNTUK CEMBURU PUN AKU TAK BERHAK
Bismillahirrahmanirahim..
Langganan:
Postingan (Atom)